Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Ngabab adalah desa wisata edukasi di lereng Pujon. Di sini pengunjung tinggal di rumah warga, ikut turun ke kandang memerah susu sapi, ke kebun menanam sayur, dan belajar membatik motif wortel serta kubis.
1.200 mdpl
ketinggian desa
8–18°C
suhu harian
33 km
dari Kota Malang
130 rumah
bersedia jadi inang
Berada di kaki lereng, Ngabab termasuk daerah perbukitan dengan udara sejuk sepanjang tahun. Kondisi ini membuat desa kaya potensi pertanian, perkebunan, dan khususnya peternakan sapi perah — hasil susunya sudah dipasok ke perusahaan susu berskala nasional, salah satunya Nestlé.
Tepat di sebelah desa berdiri Pasar Mantung, pusat transaksi sayur-mayur terbesar di Kecamatan Pujon. Sejak 2018, warga bersama mahasiswa KKN mulai merintis konsep desa wisata edukasi: bukan sekadar tempat singgah, tapi tempat belajar langsung dari keseharian petani dan peternak.
Kekompakan warga menjadi fondasi utamanya — pada 2024 Ngabab dinobatkan sebagai juara pertama Pelaksana Gotong Royong Terbaik se-Jawa Timur, dan kini desa mulai merintis kebun kopi arabika dan kakao sebagai lini usaha baru.
Setiap sudut desa punya perannya sendiri — dari kandang sapi hingga batu bersejarah di tepi kebun.
Turun ke sawah dan kebun sayur menanam serta memanen kentang, wortel, dan kubis bersama pemilik lahan.
Belajar langsung dari peternak: cara memerah, merawat sapi perah, hingga mengolah susu segar.
Jalur trekking santai menyusuri lereng dengan pemandangan hamparan kebun sayur dari ketinggian.
Sumber air alami yang menjadi tempat bersantai sekaligus bagian dari cerita rakyat setempat.
Situs batu yang dihormati warga, sering menjadi titik singgah untuk mengenal sejarah desa.
Tidur, makan, dan mengobrol di rumah warga — bagian yang membuat pengalaman terasa nyata.
Wisatawan mengikuti ritme harian keluarga inang, mulai sebelum matahari terbit.
Udara pegunungan masih dingin saat rumah-rumah inang mulai bergerak.
Menyiapkan sarapan khas desa bersama inang, sebelum aktivitas ladang dimulai.
Belajar teknik memerah sapi perah — pekerjaan pagi yang jadi urat nadi desa.
Menanam atau memanen sayur bersama pemilik lahan di tengah udara sejuk siang hari.
Menutup hari di kampung batik, mencoba motif wortel dan kubis khas Ngabab.
Tiga hasil bumi dan karya yang menjadi identitas ekonomi desa.
Batik Sayur
Motif batik khas berbentuk wortel dan kubis, dikembangkan warga sebagai ruang ekspresi seni sekaligus buah tangan bagi pengunjung.
Susu segar & olahannya
Hasil perah sapi diolah menjadi susu siap minum hingga produk turunannya, sebagian dipasok ke industri susu nasional.
Sayur dataran tinggi
Kentang, wortel, dan kubis dari kebun warga, dipasarkan lewat Pasar Mantung yang berbatasan langsung dengan desa.
Sketsa pemandangan yang akan Anda temui di Ngabab.
Alih-alih membangun hotel, Ngabab memilih membuka rumah warga. Sekitar 130 rumah yang dikenal sebagai inang siap menerima wisatawan untuk tinggal, makan bersama keluarga, dan ikut kegiatan harian mereka. Biaya yang dikeluarkan pengunjung umumnya mencakup makan dan aktivitas selama tinggal di desa.
Pendekatan ini lahir dari kondisi sosial desa yang guyub — hampir seluruh warga memeluk agama Islam dengan afiliasi kultural Nahdlatul Ulama yang kuat, menjadikan gotong royong sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar slogan.
Hubungi pengelola desa wisata untuk mengatur jadwal, jumlah rombongan, dan rumah inang yang akan menjadi tempat tinggal selama di Ngabab.